Sabtu, 17 Desember 2016

hidup dibawah 2 drajat

kiamat sudah dekat, 

banyak hal menarik di dunia ini, tapi apa artinya semua jika kiamat sudah di depan mata kita? saat konsentrasi gas karbondioksida dan gas-gas rumah kaca lainnya sudah melampaui batas 400 ppm (laporan IPCC 2016) dimana jika keadaan tidak berubah sama sekali dan tetap mengabaikan lingkungan kita maka bukan tidak mungkin 50 tahun kedepan akan terjadi kiamat kecil berupa kenaikan suhu mencapai 2 drajat.

bukan kapasitas saya untuk menjelaskan apa yang akan terjadi jika suhu bumi meningkat melampau 2 drajat, silahkan tanya bang google.

bukan hal mudah memang untuk mengubah kebiasaan hidup kita yang selama ini dipermudah oleh teknologi dengan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. tapi itu bukan hal yang tidak mungkin sama sekali, karena perubahan itu akan mengubah lingkungan sekitar kita menjadi tempat yang nyaman, kesehatan kita ikut terjamin, dan mungkin suhu permukaan bumi tidak akan naik melampaaui 2 drajat.

fenomena perubahan iklim memang fenomena yang rumit, kita hanya melihat 3 jarum yang terus begerak memutar, tapi dibalik semua itu terdapat kerumitan yang sangat kompleks dan melibatkan semua sektor yang membentuk tatanan sosial di muka bumi ini.

bukannya masyarakat dunia menutup mata melihat fenomena ini bergulir, sejak tahun 1995 COP (Confrence of party) dilaksanakan, masyarakat dunia sudah membahas banyak hal, mengatur banyak hal, bahkan menjalankan banyak hal terkait mitigasi perubahan iklim.

ada proposal kyoto di tahun 1997 yang berlaku sampai tahun 2020 dimana keputusannya mengikat negara-negara maju, atau REDD++ yang lahir pada konfrensi perubahan iklim di bali pada tahun 2007, juga paris agreement yang mana mengikat semua negara, baik itu negara maju, atau berkembang untuk menurunkan emisi mereka dimana keptusan ini baru lahir tahun 2015 sebagai kelanjutan dari proposal kyoto yang menjelang masa pensiun, dimana 197 negara yang membahasnya, 114 negara sudah menyatakan kesediaannya dalam menjalankan semua keputusan yang disepakati, sisanya mungkin masih berproses.

akankah dunia kita berakhir diatas dua drajat, atau kita dapat bertahan dan membantu bumi untuk beradaptasi dan membantunya dengan pola hidup yang ramah lingkungan, mulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar kita.

Rabu, 02 September 2015

goa lappasisi'e

[Enter Post Title Here]


Kamis sore di desa pegunungan sama seperti sore desa lainnya, yang berbeda hanya hawa dingin yang lebih cepat datang dan gelap yang menjadi pemandangan sehari – hari di desa ini, anehnya meski desa ini dilalui jalur kabel PLN dengan tiang – tiang besarnya yang sombong menancap di sawah sawah mereka, tapi tidak ada aliran listrik sama sekali. Alasannya, desa ini masih sedikit penduduknya sehingga listrik belum bisa mengalir di sini. Mungkin ada yang mau mengajari mereka mencuri listrik dari gardu – gardu itu?

Lalu, untuk apa dibangun bendungan besar di sekitar desa, jika listrik masih asing untuk mereka?

Anak – anak sudah muncul satu per satu ketika lantunan adzan magrib tenggelam bersama matahari di ufuk sana. Oh iya, anak – anak ini mengajak saya untuk mengunjungi sebuah goa di desa Lappasisi’e  sebuah desa di pelosok kabupaten Bone atau pedalaman atau daerah terpencil yang aksesnya bikin motor saya harus bekerja keras agar tak jatuh ke jurang. Sampai sekarang belum ada nama untuk Goa ini. Atau saya yang lupa kalau mereka menyebut nama goa ini dalam perjalanan?
Sebelum sampai di mulut goa di mana kami harus siap – siap berjalan kaki dan mendaki, kami singgah di rumah kebun milik adik Ifa untuk memasak dan makan sebelum melanjutkan perjalanan berat malam itu. Ifa sendiri bercita – cita menjadi Cheff nantinya, jadi sebagian teman2 yang lain memanfaatkan cita – citanya itu untuk memasakkan kami mie instant dari bekal seadanya yang kami bawa untuk perjalanan ini.

Tiba – tiba hujan turun malam itu, hujan yang tak kami prediksikan datangnya karena siang hari tadi panasnya bisa membuat semua cairan dalam tubuh ini menguap semua. Sembari menunggu hujan reda kami membuat teh dari panci bekas masak mie instant tadi. Alhasil, teh yang kami buat memiliki cita rasa asin yang gurih – gurih nyoi untuk di minum.

Beberapa anak – anak yang ikut serta memainkan ukulele dan gitar yang mereka bawa. Dan beberapa lainnya melamun sambil melihat hujan, dan apa yang mereka pikirkan membuatku ikut khawatir meski saya tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan saya juga malas untuk cari tahu. Mereka juga tidak meminta untuk pulang jadi saya pikir bukan masalah besar yang mereka pikirkan.
Syukurlah, hujan tidak turun terlalu lama malam itu.


Setelah hujan reda dan merasa hujan tidak akan kembali dalam waktu dekat ini, kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan dengan kedua kaki masing – masing. Ifah yang bertindak sebagai penunjuk jalan, sebab dia yang tahu dan paling semangat untuk petualangan malam ini, juga karena goa ini terletak di sekitar kebun milik keluarganya.

Sempat kami berhenti sejenak menunggu Ifah menentukan jalan mana yang harus ditempuh ketika mendapati percabangan jalan. Dengan sabar kami menunggu insting Ifah untuk menuntun kami ke jalan yang benar menuju Goa yang mereka maksud. Dan dengan penerangan seadanya kami melewati kebun malam itu.

Sampai di mulut goa kami di sambut dengan bau kotoran kelelawar, tapi itu tidak menyurutkan langkah kami untuk terus masuk ke dalam perut Goa. Sebelum masuk saya menyimpan sandal yang saya pakai di mulut goa, sebab alas sandal saya sudah dipenuhi dengan lumpur  yang dikhawatirkan membuat langkah saya menjadi licin. Saya juga tidak mau mengambil resiko untuk terpeleset di dalam.

Setelah melewati mulut goa, pemandangan mata saya langsung disambut lantai Kristal kristal yang putih dan bersinar tatkala terkena lampu. Otak saya langsung memikirkan mata cincin! Tapi sayang batu – batu ini tidak boleh dibetel  untuk dibawa pulang, mereka harus tetap pada tempatnya.
Ornamen – ornament goa ini juga sangat unik, kita seperti berjalan diantara terumbu karang jika masuk dalam goa ini. Seperti dasar laut yang diangkat dan di masukkan ke dalam goa ini, atau pada awalnya goa ini  merupakan goa bawah laut di mana ekosistem lamunnya sangat subur sehingga 
ketika terangkat ke permukaan laut, stalaktitnya mengikuti bentuk terumbu karang.

Bukan hanya itu saja, banyak sekali keindahan dalam goa ini yang tidak bisa saya deskripsikan dengan keterbatasan kosa kata yang saya miliki dan pengalaman menulis yang masih seujung kuku. Seperti bongkahan batu yang berserakan tak karuan, dengan pola abstrak seperti ada yang habis berperang ala Angling Dharma di dalam goa ini.

Butuh penelitian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana pastinya stalaktit – stalaktit itu menyerupai terumbukarang, dan kali ini saya hanya perlu mensyukuri semua yang saya lihat. Menyerap keindahan yang ditawarkan goa ini untuk tersimpan dalam memori otakku lalu kembali bersyukur kepada ALLAH SWT karena bisa menyaksikan salah satu kekuasaan-NYA malam itu.
Sayang sekali, persiapan malam itu sangat minim sehingga tak banyak gambar menarik yang bisa saya share untuk di instagram, path dan aplikasi media social lainnya. Bahkan untuk tulisan ini saya hanya mengandalkan kamera dari handphone saya dengan kemampuan seadanya untuk menangkap cahaya dan handphone bang Herman yang lumayan terang hasil jepretannya.

Kami beristirahat di dalam aula Goa yang saya rasa cukup untuk dipakai main bola 11 lawan 11 dengan tambahan supporter sekelas the Macz Man (supporter kesebelasan PSM).  Bahkan kami tak perlu takut untuk kehabisan udara dalam goa ini. Mengingat dari mulut goa sampai aula ini semua celah yang kami lewati sangat besar dan tinggi. Dan kami tidak terlalu masuk kedalam mulut perut  goa.

Kami menghabiskan malam dalam goa ini dengan bermusik, berbagi pengalaman dan yang paling penting, mengambil gambar sambil bereksperimen dengan cahaya – cahaya yang kami buat dari beberapa senter. Sayang karena terburu – buru kembali ke Makassar saya tidak sempat mentransfer gambar yang kami ambil didalam goa dari handphone bang herman.

Setelah beristirahat dan menghabiskan bekal, kami meninggalkan goa dengan damai sebelum koloni kelelawar kembali dari perburuan malam mereka. Saya tak tahu apa nama Goa goa ini, kata bang herman Herman goa ini memang belum ada namanya dan yang mengunjungi goa ini hanya penduduk sekitar yang ingin mencari pupuk dari tanah yang ada didalam goa.

Dulu, salah seorang warga disini menuntun salah satu mapala yang ada di Makassar untuk memetakan Goa goa ini, tapi setelah urusan mereka selesai tak pernah ada kabar lagi setelahnya. Selesai bersama urusan mereka di kampung tersebut juga selesai. Ada juga beberapa ekspedisi untuk menyusuri goa tersebut, tapi hanya bapaknya Ifah yang pernah masuk paling dalam di goa tersebut.
Seperti tebu, mereka tak pernah memberkan hasil kerja mereka, setidaknya image dari jalur goa tersebut agar dimanfaatkan warga sekitar untuk mengeksplorasi lebih jauh goa tersebut untuk kepentingan mereka. Dan goa ini pun menjadi harta karun terpencil di tengah kebun yang mudah – mudahan tetap lestari.

Satu catatan kecil jika ingin mengunjungi tempat ini, jangan lupa minta ijin dengan warga setempat, meski jalur yang dilalui dan kontur goa tidak terlalu ekstrim kita juga harus mengharga warga setempat yang tinggal di sekitar goa. Jika kesulitan untuk berkomunikasi dengan warga setempat, silahkan hubungi bang Herman, rumahnya tepat berhadapan dengan jalan masuk menuju bendungan Ponre – ponre. Dan jangan lupa bawa kunci – kunci motor, kalian akan membutuhkannya jika hujan turun di sekitar goa tersebut.
Salam lestari!!

  

Jumat, 31 Juli 2015

inspirasi dari anak - anak Gunung

sumber

sebenarnya saya harus berangkat subuh menuju bone dari rumah ini, tapi kesehatan perut saya terganggu sehingga membuatku begadang dan bangun kesiangan.

syukurlah bahwa jalanan yang dibangun pemerntah sudah cukup memadai sehingga perjalanan saya ke kecamatan libureng kabupaten bone semakin dekat rasanya. Dulu, butuh waktu setidaknya 5 jam lebih untuk bisa bertemu sanak family di sana. Kini tak cukup setengah waktu perjalanan dihabiskan untuk mengakses tempat tersebut.